Beranda > Renungan Lingkungan, Utama > Jakarta Kota potensial tapi Terlalu Penat untuk Ditinggali

Jakarta Kota potensial tapi Terlalu Penat untuk Ditinggali

Jakarta dihuni oleh jutaan manusia. Kadang kalau kita fikir sejenak, Indonesia tidak harus terkumpul di Jakarta saja baik itu mencari nafkah , mencari pengalaman , atau mencari ketenaran.. Cuma anehnya semakin banyak orang di Jakarta bukannya semakin maju kotanya justru semakin mundur, dalam hal apa ?

-          Jakarta sering kita dengar di berita adalah kota yang sering terancam banjir, karena memang kotanya yang sedikit lebih rendah dari laut.

-          Jakarta kota yang tidak tertib, karena banyaknya kepentingan membuat  tata ruang dan lalulintas juga tidak dapat ditertibkan seperti di negara lain, seperti Inggris misalnya..hemm

-          Jakarta kota para koruptor, Jakarta memang sangat berbau dengan korupsi, karena banyak ditindak oleh KPK dan memang menyangkut orang-orang  kaya dan berpendidikan yang menjadi pelakunya.

-          Jakarta kota semrawut, karena terdapat beberapa titik vital sebagai aktivitas dan rutinitas sebuah ibu kota tentunya. Tumpuan pusat : Seperti Kenegaraan , Perdagangan , Ekonomi, dll berpusat  pada satu lokasi wilayah, yang itu melupakan pengembangan wilayah yang memang tidak di berdayakan seperti di luar jawa , Kalimantan misalnya.

Jakarta juga bisa dikatakan kota untuk mengadu nasib, sukses dan tidak kalau kita sudah berada di Jakarta harapan sukses mesti tercapai, Nah motivasi ini yang kadang masih bersimpangan dengan tujuan saya kenapa memutuskan untuk di Jakarta.

Untuk pembelajar di jakarta memang harus mengetahui hal-hal prinsiple :

-          Budaya setempat misalnya. Walaupun disandang kota metropolitan, Jakarta adalah kota budaya, bahkan kota multi budaya, karena keberagaman indonesia bisa ada di jakarta, dari pendatang yang ada di Jakarta yakin beberapa pendatang dari semua penjuru indonesia memang ada di Jakarta

-          Keuangan, uang di Jakarta memang merupakan barang yang sangat lazim dikejar, dan diraih, kadang kita lupa bahwa segalanya adalah banyak tidak hanya uang, hidup hakiki didapat dari segi agama, sosial, dan beberapa prinsiple yang kadang sangat ditinggalkan sampai terlupakan selamanya karena uang lah nomor satu.

-          Tolak ukur dari perkembangan Jakarta, kalau saya menganalisa justru tolak ukur adalah Jakarta mungkin dari segi pembangunannya dulu, kalau aspek yang lain hampir beberapa daerah di Indonesia juga sudah mulai berkembang dan sebagai tolak ukur juga.

Berlainan dari itu semua agar keterjagaan Jakarta dan kondisi lingkungan alam dan sosialnya memang perlu untuk kita jaga, jika ingin Jakarta masih tetap eksis dan International pun memberikan cap kota yang memang patut untuk di contoh. Kapan ? jawabannya kita tahu sendiri, Birokrasi dan kesadaran warga perlu untuk di tingkatkan untuk menjaga Jakarta ini sebagai kota milik kita semua  seluruh warga indonesia.

Categories: Renungan Lingkungan, Utama
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.